Situs ini sedang mengimplementasikan fitur inti dan belum siap untuk penggunaan pasien.
Vaksin polio oral (OPV — Oral Poliovirus Vaccine) adalah vaksin hidup yang dilemahkan yang diberikan secara oral (tetes mulut). Indonesia saat ini menggunakan bOPV (bivalent OPV) yang mengandung poliovirus tipe 1 dan 3 yang dilemahkan, setelah penarikan tOPV (trivalent, mengandung tipe 1, 2, 3) secara global pada April 2016 sebagai bagian dari Polio Endgame Strategy WHO. OPV merupakan tulang punggung Program Imunisasi Nasional (PIN) Indonesia untuk eradikasi polio. Diberikan sejak lahir (OPV-0)
Vaksin polio oral (OPV — Oral Poliovirus Vaccine) adalah vaksin hidup yang dilemahkan yang diberikan secara oral (tetes mulut). Indonesia saat ini menggunakan bOPV (bivalent OPV) yang mengandung poliovirus tipe 1 dan 3 yang dilemahkan, setelah penarikan tOPV (trivalent, mengandung tipe 1, 2, 3) secara global pada April 2016 sebagai bagian dari Polio Endgame Strategy WHO.
OPV merupakan tulang punggung Program Imunisasi Nasional (PIN) Indonesia untuk eradikasi polio. Diberikan sejak lahir (OPV-0) dan dilanjutkan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. OPV memiliki keunggulan penting: murah, mudah diberikan (oral), dan menginduksi imunitas mukosa usus yang menghentikan transmisi poliovirus di komunitas.
Bio Farma merupakan salah satu produsen OPV terbesar di dunia dan memasok kebutuhan dalam negeri serta ekspor melalui prakualifikasi WHO. Tantangan utama OPV adalah risiko VDPV (Vaccine-Derived Poliovirus) — virus vaksin yang bermutasi dan menjadi neurovirulen. KLB VDPV tipe 2 terjadi di Indonesia pada 2022–2024, mendorong Kemenkes untuk memperkuat penggunaan IPV bersamaan dan novel OPV type 2 (nOPV2) untuk respons wabah.
Vaksin polio oral (bOPV) diindikasikan sesuai PIN Kemenkes RI:
Jadwal PIN (semua bayi Indonesia):
OPV-0: Saat lahir (0–1 hari)
bOPV-1: Usia 2 bulan
bOPV-2: Usia 3 bulan
bOPV-3: Usia 4 bulan
Sub-PIN dan kampanye tambahan: Kemenkes RI menyelenggarakan Sub-PIN (Pekan Imunisasi Nasional) di provinsi dengan cakupan rendah atau KLB VDPV, memberikan OPV tambahan kepada semua anak <5 tahun.
Novel OPV type 2 (nOPV2): Digunakan khusus untuk respons KLB VDPV tipe 2 di bawah Emergency Use Listing WHO. Indonesia menggunakan nOPV2 dalam beberapa kampanye respons wabah.
Catatan: PIN Indonesia menggunakan strategi campuran bOPV + IPV (minimal 1 dosis IPV pada usia 4 bulan) untuk perlindungan komprehensif.
Kontraindikasi vaksin polio oral (OPV) sebagai vaksin hidup:
Kontraindikasi absolut:
Imunodefisiensi berat: SCID, agammaglobulinemia, terapi imunosupresan berat. Gunakan IPV sebagai gantinya.
Riwayat VAPP (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis) pada dosis sebelumnya
Kontraindikasi relatif:
Gastroenteritis akut berat dengan muntah/diare (vaksin mungkin tidak terserap — tunda dan ulangi)
Bayi yang tinggal serumah dengan individu imunodefisien berat (risiko transmisi virus vaksin) — gunakan IPV
Bayi dari ibu HIV positif yang status HIV-nya belum diketahui
Bukan kontraindikasi:
Infeksi ringan, demam ringan
Menyusui
Prematuritas
Diare ringan
Profil keamanan vaksin polio oral (OPV):
Reaksi ringan: OPV umumnya sangat aman dan tidak menyebabkan reaksi lokal karena diberikan secara oral. Reaksi sistemik ringan jarang dilaporkan.
VAPP (Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis): Risiko sangat rendah (1 kasus per 2,7 juta dosis pertama). Kelumpuhan permanen yang disebabkan oleh virus vaksin bermutasi. Risiko tertinggi pada dosis pertama dan pada individu imunodefisien. Ini merupakan alasan utama transisi global menuju IPV.
VDPV (Vaccine-Derived Poliovirus): Virus vaksin yang bermutasi dan memperoleh kembali neurovirulensi, menyebabkan KLB di komunitas dengan cakupan vaksinasi rendah. Indonesia mengalami KLB VDPV2 pada 2022–2024 di beberapa provinsi.
nOPV2 — profil keamanan lebih baik: Novel OPV type 2 dirancang dengan stabilitas genetik lebih tinggi untuk mengurangi risiko VDPV, sambil mempertahankan kemudahan pemberian oral dan induksi imunitas mukosa.
Pedoman pemberian vaksin polio oral sesuai PIN Kemenkes RI:
Dosis dan cara pemberian: 2 tetes (0,1 mL) bOPV diteteskan langsung ke mulut bayi menggunakan dropper vial. Pastikan bayi menelan dosis — jangan meneteskan terlalu ke belakang (risiko muntah) atau terlalu ke depan (risiko tidak tertelan).
Jadwal PIN:
OPV-0: Saat lahir (bersamaan dengan HB-0)
bOPV-1: Usia 2 bulan (bersamaan dengan DPT-HB-Hib-1 dan IPV-1 atau fIPV)
bOPV-2: Usia 3 bulan
bOPV-3: Usia 4 bulan
Ketersediaan: Gratis di seluruh Puskesmas, Posyandu, dan rumah sakit pemerintah melalui PIN. Bio Farma memproduksi bOPV untuk kebutuhan nasional.
Pelatihan Posyandu: Kader Posyandu dilatih untuk memberikan OPV secara aman, meskipun pengawasan oleh bidan atau perawat tetap diperlukan.
Efikasi vaksin polio oral:
Serokonversi: 3 dosis bOPV menghasilkan serokonversi 70–90% terhadap tipe 1 dan 3 di negara tropis (lebih rendah dibanding negara beriklim sedang karena interferensi enterovirus). Penambahan IPV meningkatkan seroproteksi hingga >95%.
Imunitas mukosa (keunggulan utama OPV vs IPV): OPV menginduksi IgA sekretorik di saluran pencernaan yang menghentikan replikasi dan transmisi poliovirus liar di komunitas. Ini merupakan alasan OPV tetap menjadi pilihan utama di negara endemik dan untuk respons wabah.
Kontribusi terhadap eradikasi: OPV telah mengeliminasi poliovirus liar tipe 2 (1999) dan tipe 3 (2012) dari seluruh dunia. Hanya poliovirus liar tipe 1 yang masih bersirkulasi di Afghanistan dan Pakistan.
nOPV2: Novel OPV type 2 dirancang dengan stabilitas genetik yang ditingkatkan untuk mengurangi risiko reversi ke neurovirulence, mempertahankan imunogenisitas, dan menjadi alat utama respons wabah VDPV2 global.
Strategi endgame Indonesia: Setelah eradikasi global tercapai, Indonesia (bersama negara lain) akan beralih ke jadwal IPV-only dan menghentikan semua penggunaan OPV.
Interaksi vaksin polio oral:
Vaksin rotavirus: Dapat diberikan bersamaan tanpa interaksi bermakna.
Vaksin PIN lain: bOPV diberikan bersamaan dengan DPT-HB-Hib, IPV, BCG, dan hepatitis B tanpa masalah.
ASI: Meskipun ASI mengandung antibodi yang secara teoritis dapat mengurangi efektivitas OPV, efek ini minimal dan WHO merekomendasikan menyusui TIDAK ditunda atau dihentikan untuk vaksinasi OPV.
Antibiotik oral: Tidak ada interaksi bermakna yang diketahui.
Tindakan pencegahan vaksin polio oral:
Regurgitasi: Jika bayi memuntahkan dosis OPV segera setelah pemberian, dosis ulang dapat diberikan. Jika muntah lagi, hitung sebagai dosis dan berikan dosis berikutnya sesuai jadwal.
Virus shedding: Virus vaksin diekskresi dalam tinja selama beberapa minggu pasca-vaksinasi. Kebersihan tangan penting untuk mencegah transmisi ke individu imunokompromi.
Rantai dingin: OPV memerlukan penyimpanan pada -20°C (jangka panjang) atau 2–8°C (operasional). Monitor VVM (Vaccine Vial Monitor) pada setiap vial.
Cakupan tinggi kritis: Efektivitas OPV dalam menghentikan transmisi bergantung pada cakupan komunitas tinggi (>90%). Kemenkes RI menargetkan cakupan OPV3 >95% di semua kabupaten/kota.
| Dosis | Merek | Hari sejak sebelumnya | Rentang usia |
|---|---|---|---|
| Dosis 1 | bOPV | — | 0 bulan+ |
| Dosis 1 | bOPV | — | — |
| Dosis 1 | nOPV2 | — | — |
| Dosis 2 | nOPV2 | 28d | — |
| Dosis 2 | bOPV | 42d | 1 bulan+ |
| Dosis 3 | bOPV | 28d | — |
| Dosis 4 | bOPV | 28d | — |
Tahu vaksin apa yang Anda butuhkan? Bagus. Belum yakin? Cukup beri tahu tujuan perjalanan — kami akan menemukan vaksin yang tepat dan klinik. Gratis, tanpa kewajiban.
Konten pada halaman ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten ini tidak merupakan saran medis, diagnosis, atau rekomendasi pengobatan. Jika Anda memiliki masalah kesehatan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi. SafeTripVax bukan penyedia layanan medis.
Syarat penggunaan lengkap